TANGGAPAN KASUS MOBIL LISTRIK DAHAN ISKAN

 

Pemberitaan mengenai kasus pengadaan mobil listrik, seperti yang telah dilansir oleh pemberitaan ( http://www.gatra.com/hukum-1/152600-jaksa-agung-pengadaan-mobil-listrik-perintah-dahlan.html ) Jakarta, GATRAnews 19 jni 2015 – Jaksa Agung Muhammad Prasetyo mengatakan, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan adalah pihak yang memerintahkan pengadaan 16 mobil listrik senilai Rp 32 milyar, yang melibatkan tiga BUMN, yakni Pertamina, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Perusahaan Gas Negara (PGN).

“Pak DI (Dahlan Iskan) kan sebagai Menteri BUMN yang punya gagasan, punya inisiatif, dan indikasinya yang menyuruh pengadaan mobil listrik itu,” kata Prasetyo di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (19/6).

Sampai saat ini, lanjut Prasetyo, posisi Dahlan dalam kasus ini masih sebagai saksi dan sudah ada dua orang tersangka. Dahlan diduga yang menyuruh pengadaan mobil listrik ini melibatkan Pertamina BRI, dan PGN.


“Mobil listrik diproses terus, ada beberapa orang tersangka yang sudah ditetapkan Satgassus. Pak Dahlan Iskan masih sebagai saksi, Pak DI kan sebagai Menteri BUMN yang punya gagasan, punya inisiatif, dan indikasinya yang menyuruh pengadaan mobil listrik itu, dengan melibatkan 3 BUMN: BRI, PGN, dan Pertamina,” katanya.


Sedangkan soal berapa kerugian negara akibat pengadaan 16 mobil listrik senilai Rp 32 milyar ini, Prasetyo mengaku belum mengetahuinya. “Kabarnya pemeriksaan kemarin itu nggak tahu, lupa. Nanti kita akan periksa lagi, masa semuanya lupa,” katanya.


Dalam kasus ini, Kejaksaan Agung baru menetapkan dua tersangka, yakni Direktur Utama PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi (DA), dan Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia, Agus Suherman (AS).


Dasep Ahmadi merupakan tersangka dari pihak swasta yang mengerjakan proyek pengadaan 16 mobil listrik di 3 BUMN. Sedangkan Agus Suherman menjadi tersangka atas jawabatannya di Kementerian BUMN ketika proyek itu dikerjakan pada tahun 2011.

“Tersangka AS merupakan mantan pejabat di Kementerian BUMN yang meminta atau memerintahkan 3 BUMN untuk membiayai pengadaan mobil listrik, serta menunjuk tersangka DA untuk mengerjakan proyek tersebut,” ungkap Tony.

Kejaksaan Agung mulai menyelidiki kasus ini sejak Maret 2015. Pengadaan 16 mobil jenis electric microbus dan electric executive bus ini, terdapat di PT BRI, PT Perusahaan Gas Negara, dan PT Pertamina.


Penyelidik sudah memintai keterangan dari 17 orang sebelum menaikkan perkaranya ke penyidikan. “Sudah 17 pihak yang dimintai keterangan. Saat ini, kasusnya sudah naik ke penyidikan,” kata Tony.


Pengadaan ini bermasalah karena ke-16 mobil listrik tersebut tidak bisa dipergunakan sama sekali. Karena tidak bisa digunakan, kemudian mobil itu dihibahkan ke-6 perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (Unibraw), dan Universitas Riau meski tidak ada kerja sama.

Penyidik masih terus memeriksa dan mencari alat bukti untuk menetapkan tersangka atau pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban hukum atas dugaan penyimpangan yang berawal pada tahun tahun 2013 saat Dahlan Iskan menjabat sebagai Menteri BUMN.

Dahlan memerintahkan sejumlah BUMN menjadi sponsor pengadaan mobil listrik itu untuk mendukung kegiatan operasional konferensi APEC tahun 2013, di Bali. Namun mobil tersebut tidak bisa digunakan. Akibatnya, ketiga BUMN tersebut mengalami kerugian dan jaksa tengah menghitungnya.

 

Tanggapan :

Dari artikel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Jaksa Agung HM Prasetyo sejauh ini pihaknya telah menetapkan beberapa tersangka terkait kasus tersebut  yakni Direktur Utama PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi (DA), dan Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia, Agus Suherman (AS). Mengenai dugaan keterlibatan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam perkara ini juga tengah didalami dan tak menutup kemungkinan ditetapkan sebagai tersangka walaupun hingga saat ini status beliau masihlah sebagai saksi. Tidak adanya sangkut pautnya Dahlan Iskan pada kasus korupsi diperkuat oleh pernyataan dari Yusril Izha Mahendra selaku pengacara Dahlan iskan (sumber: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150617_dahlan_iskan_kasus_mobil_listrik ) Yusril menjelaskan bahwa kasusnya bermula beberapa waktu menjelang KTT APEC tahun 2013 di Bali. Saat itu di rapat-rapat kabinet muncul ide menggunakan forum akbar itu untuk mempromosikan kemampuan Indonesia membuat mobil listrik. Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN lalu diserahi tugas menyiapkannya, karena tidak dianggarkan pembiayaannya di APBN, maka dicarikan jalan keluar berupa menghimpun dana dari biaya promosi BUMN yang tertarik. Ada tiga yang tertarik: Pertamina, PT Gas Negara, dan Bank Rakyat Indonesia. Ketiganya menyatakan berminat, bukan ditunjuk. Ketiga BUMN kemudian berurusan dengan PT Sarimas Ahmadi Pratama, yang dianggap sudah berpengalaman membuat mobil listrik, untuk membuat 16 mobil listrik dengan biaya Rp32 miliar. Dari 16 mobil itu hanya tiga yang selesai. “Namun itu urusan antara pembuat mobil dengan tiga BUMN yang memesan dengan dana promosi mereka,” kata Yusril.

Namun kemudian Dahlan Iskan mengaku prihatin bahwa mantan stafnya, Agus Suherman, yang ditetapkan sebagai tersangka. “Saya sedih ini menjadi masalah pidana,” kata Dahlan seperti dikutip Tempo. Dahlan menyatakan bersedia mengganti seluruh pengeluaran yang dianggap sebagai kerugian.

Namun Yusril menegaskan, kesediaan Dahlan mengganti seluruh pengeluaran itu bukan merupakan pengakuan bersalah. “Itu watak Pak Dahlan. Sebagaimana dulu, ketika para suporter Persebaya melakukan perusakan di kereta api, Pak Dahlan sebagai Ketua Persebaya waktu itu menyatakan akan mengganti seluruh kerugian, kata Yusril.

Lepas dari itu, menurut Yusril, dalam pandangannya, tidak ada unsur korupsi dalam urusan ini, karena menyangkut hubungan profesional antara dua pihak.

Bahwa terjadi “saling menyalahkan tentang fakta bahwa dari 16 mobil listrik yang dipesan, hanya tiga yang selesai, itu masalah antara tiga BUMN itu dengan PT Sarimas Ahmadi Pratama.”

Dari kutipan diatas, saya setuju bahwa ini adalah kasus korupsi dan Dahlan Iskan hanyalah saksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s